KECERDASAN LOKAL DALAM PROSES RITUAL MENJADI BALIN (SHAMAN)
PADA MASYARAKAT DAYAK
Peneliti:
1. Rizal Mustansyir
2. Sonjoruri Budiani Trisakti
2. Sonjoruri Budiani Trisakti
INTISARI
Kecerdasan lokal pada proses menjadi balin dalam masyarakat Dayak mengandung banyak keunikan dan berelasi secara kuat dengan kreativitas. Setiap tindakan manusia selalu didasarkan atas kreativitas tertentu dalam rangka menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Dibalik sebuah kreativitas terdapat kecerdasan yang umumnya didominasi oleh kelompok minoritas dalam suatu kebudayaan. Wujud kecerdasan manusia dapat dimanifestasikan dalam bentuk artefak, tindakan, dan ide. Salah satu bentuk kecerdasan lokal dalam budaya Dayak dapat dilihat dalam prosesi ritual menjadi balin.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang dilengkapi dengan hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat yang pernah melakukan penelitian tentang shaman masyarakat Dayak, dilengkapi pula dengan wawancara dengan beberapa pelaku balin di Desa Bagak Sahwa, Singkawang dan Daerah Mandor, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode reflektif-hermeneutika yang didasarkan atas unsur-unsur metodis: analisis kritis, interpretasi, dan deskripsi dengan menggunakan teori kecerdasan Gardner.
Hasil penelitian Kecerdasan lokal dalam aktivitas saman atau balin pada budaya Dayak Kalimantan, ketujuh kecerdasan yang diungkap oleh Gardner teroperasikan secara kait mengkait, sehingga seorang balin t mampu melakukan tugas dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan dihadapi masyarakatnya. Namun demikian dari ketujuh macam kecerdasan tersebut, kecerdasan Bodily-kinesthetic, intrapersonal dan interpersonal yang paling menonjol sementara bentuk kecerdasan spatial lebih dimaknai secara metafisik, bukan ruang dalam arti fisik.