KONTRIBUSI PEMIKIRAN LUDWIG WITTGENSTEIN
ATAS FILSAFAT KONTEMPORER
Oleh: Rizal Mustansyir
A. Pendahuluan
Dewasa ini filsafat dipahami sebagai bidang kajian yang setara dengan disiplin ilmu lain, meskipun masih ada sebagian ilmuwan yang menganggap filsafat tidak lebih daripada sekadar aktivitas eksklusif yang dilakukan segelintir orang untuk mempersoalkan hal-hal yang kurang penting. Bahkan adapula sebagian ilmuwan yang tidak tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan oleh para filsuf, sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia. Apa pun yang ditudingkan dan dilabelkan atas diri para filsuf dan ahli filsafat, tidaklah mengurangi aktivitas filsafati dalam sejarah peradaban dan pemikiran manusia. Filsafat sejak jaman Yunani Kuno telah menebar pengaruh yang besar dalam sejarah pemikiran manusia, terutama dengan diletakkannya dasar teoritis bagi cikal bakal pengembangan pemikiran ilmiah melalui logos, ethos, dan pathos.
Sokrates (470 SM-399 SM) telah menanamkan pengaruh pemikirannya atas generasi muda pada masa itu melalui metode maijetike tekhne dengan cara memancing diskusi mereka yang dipandang pakar pada jamannya, sehingga kebenaran dapat dilahirkan melalui cara yang kritis. Sayangnya Sokrates tidak meninggalkan karya tulis yang dapat disimpan sebagai monumen historis. Plato (368 SM-277 SM) melanjutkan tradisi Sokrates dengan karya tulis dalam berbagai bidang seperti: politik, etika, metafisika, epistemologi. Landasan filsafati yang ditinggalkan Plato melanjutkan tradisi besar yang diukir oleh Herakleitos dan Parmenides. Menurut Plato Herakleitos benar dalam pernyataannya yang termasyhur Panta Rhei kai ouden menei, segala sesuatu di dunia ini selalu mengalir, tidak ada yang bersifat tetap. Parmenides juga benar menurut Plato dengan konsepnya tentang sesuatu yang tetap, tidak berubah. Inspirasi pemikiran kedua filsuf Herakleitos dan Parmenides itu disintesiskan Plato ke dalam konsep metafisika tentang The One and The Many, hal satu dan hal banyak. Hal satu yang bersifat tetap ada dalam dunia ide, hal banyak yang selalu berubah ada dalam dunia bayang-bayang.Plato termashur terutama karena teorinya tentang Bentuk-Bentuk atau Ide-ide sebagai suatu entitas yang abstrak dan universal. (Magee, 2001: 27). Aristoteles (384 SM-322 SM) melangkah lebih lanjut dengan konsepnya tentang realitas, bahwa pemahaman kita tentang realitas bukan pada konsep yang bersifat umum sebagaimana halnya pada Plato, namun justeru pada realitas konkrit yang bersifat tunggal. Hal yang penting bagi kita menurut Aristoteles bukanlah perihal “ke-pohon-an”, melainkan “pohon tertentu” yang ditangkap oleh indera dan diolah oleh pemikiran kita.